Anak Matahari Jiwa Jingga : fragmen pohon Mati

Juni 16, 2008 at 4:44 am (6. Puisi)

Aku memperkosanya lewat angan

Melewati keperawanan pulau dan membawanya pergi dari dusun dan padang luas

ke gang-gang sempit perkotaan,

di got-got dimana tikus mengunyah bulan

Lalu kubobo’kan ia di hotel-hotel melati

Dan selanjutnya ia pun berdiri dan berlari

lalu merayap di dinding-dinding mall, gedung perkantoran

untuk terjerembab di altar peradaban

 

Anakku lahir meneteki tong sampah lalu juga mengunyah bulan

Anakku belajar menapak kaca lalu mengheret darah ke jendela mobil-mobil mewah Anakku melubangi telapak tangannya untuk mengisi koin-koin

di persimpangan ke arah entah

Anakku belajar menyuap koran

dan menghirup  aroma knalpot dengan paru-paru kaleng bekas

(Akulah pohon mati itu

Yang menatap dengan kekeringan!)

 

Rantingku:

Hanyalah jemari kurus yang tak sanggup menggapai kedewasaan

Matahari menjilati getah usiaku yang tertinggal

Aku  tak sanggup lagi menimang anak-anak daun

Anak matahari jiwa jingga datang memeluk akar-akarku yang mulai membusuk

Meminta dongeng matahari di kala terbit

 

(Oh jiwa jingga

Anak matahari

Kau lahir senja

Ibumu kupu-kupu

Ayahmu keterasingan)

 

Dan aku:

akulah pohon mati itu!

: yang dulu megah dengan kerimbunan masa depan

  membuai dengan buah-buah ranum

  mengikatkan mimpi di sebuah bandul

 dan mengayunkannya di depan mata

 lalu aku ditebang matahari

: Rantingku hanyalah jemari kurus yang tak sanggup menggapai kedewasaan

  Dalam usiaku yang tertinggal

  Aku sudah tak sanggup lagi menimang anak-anak daun

 

Batam, Februari 2007

 

Iklan

Permalink 1 Komentar

Surah Pementasan

Juni 16, 2008 at 4:44 am (6. Puisi)

Telah ditarikan kekuasaan itu dalam gerak zapin kemunafikan

Jauh mengalun irama

Kebohongan berucap seiring rentak bunian menatap kosong

Kala harapan rakus dikunyah

Asa menghilang lesap

Angin sunyi berkata lirih berbisik berpadu gaung rebana

Bayangkan ada sepuluh pasangan penari bercengkrama rentak gembira diarena luka

Banyak para penonton namun bisu berbahasa

Para pembual bermain ghazal

Mengedipkan mata biduan malam

 

Kita menyukainya?

Sri pentas agung menampilkan kesenian

Kepala tanpa wajah memainkan biola

Menggoyangkan kepala para pembesar menaik-naikkan alis mereka

Keangkuhan menawarkan sirih

Pinang dibelah sang jantan mengecap pekat

Penari merunduk di depan dengan rambut panjang ke tanah

Mereka berkata budaya berkacak pinggang menatap engkau

 

Telah dibahasakan puisi itu menyerupai serunai

Fasih berbunyi nyaring

Penyair menempa belati mengukir batu menjadi nisan

Keterpurukan menangis lantang diserukan

Menyalami tangantangan yang kibarkan bendera kebenaran

Namun telinga angkuh tak mau mendengar

Tuli dibujuk ramah

Pongah mengangkat takbir

 

Kita menyukainya?

 

Telah dipentaskan kepalsuan itu dalam drama

Setelah usai, kehampaan bertepuk tangan

Harapan menyusul ajal menjadi sampah

Tak usah risau

Semua akan dibersihkan

Besok akan ada pagelaran lagi

Batam, Januari 2007

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERSAHABATAN PUISI

Juni 16, 2008 at 4:43 am (6. Puisi)

Pada ibu nadi kita bergelayut mimpi di setiap detaknya

Menggelembung di wajah lugu

Saat memandang elegi Jamaica

Blues kaum papa di Montenegro

Sampai mencicipi soul British pop dengan air liur

 

Masih ingatkah kau

Saat yakin itu kita getarkan di senar gitar

Ada simponi di bathin rindu

Di kala mata terpejam dan nada itu

Melahirkan kita kembali dalam ujud gelombang

Karena musik telah menggandeng tangan kita dari kekosongan

Lalu menyadarkan bahwa kita belum lagi ada

Maka kita pun mulai mengeluarkan tangisan pertama

Menyusu pada lagu-lagu

Pada untaian lirik yang menimang ruh kita sampai kenyang hingga bersendawa

 

Masih ingatkah kau

Di waktu kita mencium kening partitur

Dan not-not mencair di kerongkongan hingga kita mabuk lalu bertanya adilkah tuhan melahirkan manusia dari rahim kaya atau miskin

Dan aku mulai sibuk menyadarkanmu saat Jim Morisson kau anggap nabi

 

Tawa dan kepedihan kita sauhkan

Di pucuk nadi

Di rusuk nada

 

Di telapak sepatu kita simpan perih lalu kita hentakkan di panggung-panggung

Kita bakar obor gelisah dengan melodi lalu mengancam malam yang telanjang

Sambil berlari meniup harmonika, kita suguhkan bara di rahang kesedihan

Kita bedaki wajah kehidupan layaknya badut

Lalu ungkapkan kepuasan pada bulan

Kemudian menertawakan diri kita yang haram di dalam bayang cermin gelas seloki

 

Ya

Malam-malam pada saat itu adalah ibu

Menuangkan inspirasi ke dalam gelas jiwa kita yang muda

Bajingan pada saat itu adalah tidur terganggu yang melempari kita dengan batu batu jengkel

 

Namun, lagu kita patah di tengah jalan

Berjalan terseok dengan langkah sumbang

Di kala mereka memerangkapnya dengan nilai jual

Mengukur kedalamannya dengan uang kertas

 

Tapi

Masihkah kau kirim bunga berkabung

Di kala kugantung leher perkusi di beringin mati

Beragam maki yang kau hujamkan

Sebab aku kini batu mengapung

Tak lebih seonggok tanah kehilangan berat

Namun seharusnya kau tahu

Berdiri di atas tebing haruslah dalam keadaan sadar

Daun teh muda harus mempertimbangkan rintih induk pohonnya

 

Kurasa tak ada yang salah dalam persahabatan kita

Selain jalan hidup tersendiri

Kalau boleh aku bertanya

Apa kabar nada hari ini?

Batam, 2007

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kemarau

Juni 16, 2008 at 4:29 am (6. Puisi)

kemarau…

Api menyusu di puting padi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TAK ADA LAGI TUAN LANDAK

Juni 16, 2008 at 4:28 am (7. Cerpen)

“Sore, Tuan Landak.”

Mereka selalu memanggil Ismail dengan julukan itu. Walau tak manusiawi, ada sebab yang memunculkan nama itu begitu melekat pada diri Ismail. rambut Ismail berdiri tegak seperti landak, tebal, kasar-kasar, persis seperti duri pohon kaktus. Momok menakutkan bagi tukang balon.

“Mau kemana, Tuan Landak?”

Hampir setiap hari, nama itu pasti selalu diulang. Sekali melihat wajah Ismail lewat melintas, dimana saja, rambutnya seolah menjadi pemicu tombol rewind setiap orang untuk menyapa dengan nama yang menurut Ismail tak pantas disebut. Tanpa komando, tanpa aba-aba, tanpa basa-basi.

 “Apakah ia tidak pernah meminyaki rambutnya?” tanya seorang babu pada babu lain. Mereka bukan merasa jijik dengan rambut Ismail. Hanya saja, kalau rambut Ismail sedikit lemas, maka kenyataannya akan sangat berbeda. Walaupun rambut Ismail berdiri seperti bulu-bulu landak, namun ia memiliki wajah yang tak kalah ganteng dengan pemain sinetron. Memang Ismail tak memiliki lesung pipit yang menawan, ataupun dagu belah menarik hati, tetapi wajah Ismail punya wibawa, tirus menawan seperti wajah orang Perancis. Padahal dia bukan orang Perancis. Ayahnya Batak, ibunya Cina. Orang-orang yang tahu asal-usul Ismail mempersingkatnya menjadi Bacin alias Batak-Cina. Dengan wajah yang salah kaprah itu, yang dibilang semi-Perancis itu, ia menjadi sangat populer di kalangan wanita.

Ismail bukan tak pernah meminyaki rambutnya. Sudah banyak jenis minyak rambut pernah dipakainya, atau paling tidak pernah dicobanya. Pernah seorang teman menasehati Ismail agar memakai minyak rambut yang agak keras, biar nurut katanya, alhasil tak bisa. Bahkan yang paling keras sekali pun, tetap tak bisa. Pernah juga nenek temannya menyarankan agar rambut Ismail diluluri putih telur, kemudian dibiarkan selama lima belas menit. Namun apa hasil, tetap saja begitu. Berdiri.

Biasanya Ismail hanya diam merengut jika dipanggil Tuan Landak. Melesat begitu saja tanpa tengok sana-sini. Ia berjalan dengan kening yang mengkerut, terlalu banyak memikirkan rambutnya. Suatu ketika Ismail pernah iseng menanyakan soal rambutnya yang berdiri tegak tak mempesona itu kepada ibunya. Ibunya menuturkan bahwa keadaan itu disebabkan Ismail lahir tengah hari siang bolong. Jawaban ibunya membuat kening Ismail semakin banyak memiliki kerut, jika diperhatikan dengan seksama, maka akan terlihat seperti Bulldog yang diperintahkan untuk mengisi teka-teki silang.

Tapi hari ini berbeda, senyum Ismail begitu lebar. Tak lagi seperti Bulldog, ia nyaris seperti seorang badut yang baru menikah. Wajahnya memancarkan cahaya putih bersinar. Seperti pagi, ia berjalan menyejukkan. Tak biasanya ia bersiul, melempar senyum ke setiap orang, berjalan dengan penuh semangat, dan sekali-kali mengusap rambutnya.

“Selamat siang, Tuan Landak,” sebuah suara kembali  menggoda Ismail..

Ismail seakan tak peduli, ia terlihat seperti tak dapat lagi mendengar kata-kata yang biasanya menyakitkan itu. Ismail malah membalas dengan senyuman dan terkadang terlihat sedikit picik. Tunggu saja, sabar saja, lihat saja nanti, hati Ismail membatin. Hal itu tak pelak membuat orang-orang heran. Ismail hari ini juga menyapa.

“Lagi potong rumput, Pak Bagio?”

“???”

“Mau ke pasar, Bu Mirna?”

“Eh ke pasar…pasar,” ibu itu terlatah-latah, keranjang yang dibawanya nyaris jatuh. Sambil memperbaiki syarafnya yang terkejut, ibu itu terlihat bingung. Terlalu banyak batin yang bertanya-tanya. Ada apa ini?. Ada apa gerangan?. Atau bahkan apa gerangan yang akan terjadi?.

***

Ismail berjalan cepat. Ia hendak menuju sebuah salon yang baru saja diberitahukan Makciknya yang tukang rias pengantin. Kata Makciknya salon itu terkenal dengan potongannya yang bagus. Banyak model rambut terbaru yang boleh dipilih. Ismail berencana memotong rambutnya dengan model shaggy. Sebuah model rambut yang dilihatnya di televisi. Istilah shaggy itupun ia dapatkan dari Makciknya setelah menanyakannya langsung. Entah betul apa tidak, itulah yang hendak ia coba.

Dengan menghiraukan godaan di sepanjang jalan, Ismail telah sampai di depan salon yang dimaksud. “Salon Ipoy”, Ismail mengeja tulisan itu baik-baik. Inilah tempatnya. Di dalam ruangan salon terlihat dua orang pemuda yang sedang antre. Seorang lagi sedang dipangkas rambutnya. Orang-orang terlihat tertawa geli di dalam ruangan salon yang bagian depannya terbuat dari kaca. Yang ruangannya hanya empat kali luas kuburan. Sebenarnya Ismail enggan masuk ke dalam, enggan dijadikan bulan-bulanan ejekan semua orang di dalam. Belum lagi tukang pangkas yang sekarang melirik ke arah Ismail sudah tersenyum geli. Pemuda itu berlagak seperti wanita. Berarti benarlah apa yang dikatakan Makciknya bahwa yang memotong rambut adalah seorang pondan. Setengah laki-laki, setengah perempuan. Fakta menyebutkan bahwa mereka adalah Hairstylist yang sangat berbakat. Bahkan lelaki dan perempuan bisa kalah jika berhadapan dengan urusan memotong rambut. Ismail memberanikan diri melangkah masuk ke dalam salon.

“Mari masuk,” pondan itu menyapa.

Ismail tersenyum paksa dan langsung duduk untuk antre di samping dua orang pemuda yang masih senyam-senyum.

“Berbenah diri ya, Mail?” pertanyaan itu tak lebih dari sebuah ejekan dari seorang pemuda yang mirip tiang listrik. Tinggi dan kurus seperti orang Bosnia sewaktu dilanda perang dahulu. Ismail tak mengenal pemuda itu, Ismail hanya diam. Sambil membalas dengan pandangan sinis, tampak otot rahangnya membesar. Pemuda tadi kini tertunduk. Dengan rambut berdiri tegak, kening berkerut banyak, Ismail terlihat sangat berbahaya. Tapi rambut Ismail yang berdiri itu juga membuat pemuda tiang listrik itu terpaksa harus menahan geli hatinya.

Tak ada pembicaraan semenjak pemuda tadi diam. Ismail hanya sibuk memandangi ruangan salon. Cermin yang tersusun rapi memantulkan wajah-wajah mereka. Di dinding ruangan itu banyak terpampang poster-poster aneka ragam model rambut. Ismail tenggelam mengagumi poster itu. Kadang kepalanya dimiringkan, untuk melihat detail model rambut yang diinginkannya. Tampak olehnya rambut lurus berkilau menutupi mata sang model, rambut gaya Mandarin. Yang lainnya ada sosok macho, rambut disisir ke belakang seperti mafia Italia. Di dalam hati ia memimpikan rambut seperti itu, berjalan dengan penuh percaya diri tinggi.

“Sebentar lagi mau selesai tu, Bang, Abang saja dulu,” pemuda yang tubuhnya seperti tiang listrik tadi membuyarkan khayalan Ismail. Nampaknya ia hendak menebus kesalahan dengan menawarkan giliran kepada Ismail. Pemuda yang satunya nampak tak keberatan, terlihat masih sangat muda dengan jerawat masa puber. Ia rela sebab hendak melihat sejauh mana rambut Ismail akan berubah, apakah mungkin?.

“Bolehlah,” Ismail menjawab tanpa ekspresi. Dingin. Ia ingin secepatnya untuk dipangkas, namun ia tak ingin direndahkan dengan tawaran itu.

“Sudah nih, siapa lagi?” Ipoy membuka kain yang diselimutkan ke badan–supaya rambut tak kena baju–dari orang yang sudah selesai dipotong rambutnya. Tampak ia mengibas-ngibaskan pundak orang itu dengan sehelai kain. Orang itu pun berdiri dan merogoh kocek, memberikan kepada Ipoy beberapa lembar uang ribuan dan melangkah ke luar salon dengan tergesa-gesa. Ia seakan tak peduli dengan semua orang di dalam ruangan salon.

Ismail berdiri lalu duduk di kursi pangkas dan diselimuti oleh Ipoy dengan kain berwarna biru muda, ada sedikit rambut di kain itu.

“Mau potong yang gimana?” tanya Ipoy manja.

 “Tolong rambut saya diakali terserah bagimana bagusnya, di-shaggy bagus tidak?” nada serius timbul dari bibir Ismail.

Seketika itu juga semua orang tertawa. Kata “diakali” itu membuat geli yang sudah ditahan-tahan, meledak. Kedua pemuda itu tertawa sangat keras. Seketika itu juga Ismail berdiri tegak dari kursi tempat ia duduk, ia menggeretakkan giginya. Emosi sudah tak bisa dibendung lagi. rasa sakit hati di perjalanan menuju ke salon yang sudah terakumulasi meledak sudah

“Anjing kalian!!!”

Kedua pemuda itu terlihat pucat. Ipoy terhenti tertawa. Bagaimana tidak, tawa mereka seketika itu juga berubah menjadi bumerang yang mengusik banteng tidur. Mata banteng itu merah, hidungnya kembang-kempis mengeluarkan uap emosi. Ditambah lagi banteng ini mempunyai rambut yang berdiri tegak. Ismail seperti kerasukan, marahnya luar biasa. Ia merebut gunting yang lagi dipegang Ipoy, namun ipoy menahannya.

“Kubunuh kalian !!!” terjadi tarik menarik antara Ipoy dan Ismail, namun sayang kekuatan Ipoy lebih besar,  gunting ditarik Ipoy sekuatnya sehingga lepas dari tangan Ismail dan Ipoy jatuh. Namun ia langsung bangkit sebab Ismail kini mulai mengejar kedua pemuda tadi yang sudah berhamburan lari keluar salon. Ipoy menangkap Ismail.

“Lepaskan!” Ismail berontak.

“Sabar, Bang, sabar!” dengan sekuat tenaga Ipoy mencoba menahan Ismail.

“Biar mereka tahu bahwa aku juga bisa marah!” Ismail masih mencoba melepaskan diri “Aku sudah bosan, aku sudah muak,” Ismail mulai letih meronta.

“Saya tahu, tapi tak baik seperti ini, Abang harus bisa tahan emosi, lagi pula ini kan cuma masalah rambut,” Ipoy tetap menahannya.

“Cuma masalah rambut katamu!!!” Ismail meronta lagi, kata-kata itu membuat darahnya naik lagi. Ipoy mendekap Ismail semakin erat, ia tak menyadari Ismail mulai kesakitan.

“Maaf,  Bang, saya tahu, sabar, Bang.”

“Le…paskan sss….saya,” suara Ismail terdengar seperti meleleh. Ipoy merasakan kesakitan dalam suara Ismail, ia melepaskan tangannya perlahan, kemudian memutar badannya ke depan Ismail dan terkejut melihat wajah Ismail sudah seperti ikan kehabisan nafas. “Maaf, Bang,” Ipoy agak menjauh, takut Ismail mengamuk, ia tutup mulutnya dengan kedua tangan. Namun Ismail hanya duduk kembali, ia mencoba memperbaiki nafas. Ipoy belum bergerak, ia masih dihantui rasa takut.

Ismail sudah bisa bernafas sedikit normal. Emosinya menurun. Kini ia seperti patung, memandang cermin di depannya, sekali-kali ia menghela nafas. Karena ada banyak cermin di sana, ia seakan berada di pasar durian. “Ah, sudahlah!” Ismail kemudian berdiri dari kursi lalu tanpa bersuara langsung pergi keluar salon. Ia tak pamit. Ipoy menghela nafas lega. Perasaan itu terlihat jelas sewaktu ia tak lepas memandang Ismail yang semakin menjauh.

 

Setelah keluar dari salon, Ismail tak langsung pulang ke rumah. Ia enggan menyusuri jalan menuju rumahnya, dimana para tetangga dan yang lain akan kembali memanggilnya dengan sebutan itu. Ismail tak ingin membuat kesalahan fatal dengan keadaan emosi yang kurang baik. Jadi ia putuskan untuk pergi ke rumah Makciknya.

Di sebuah persimpangan, Ismail menunggu jenis angkutan umum metro trans jurusan Batu aji-Muka kuning. Tak lama kemudian sebuah mobil angkutan berhenti di depannya dan Ismail masuk. Ismail mencari tempat duduk kosong, dilihatnya bangku kosong di sudut depan mobil angkutan itu. Seorang pria tua menatapnya, kemudian melihat bangku kosong itu lalu bergeser sedikit untuk memberi tempat. Ismail melihat pria tua itu dengan lekat. Pria tua itu terlihat kusam, di bawah matanya menggelantung warna hitam seperti kurang tidur selama seminggu. Namun yang membuat Ismail takjub adalah rambut pria itu yang mengkilat. Ujung depan rambut pria itu sedikit menutupi matanya namun tak sampai menutupi hidung. Belahan rambutnya menuju ke samping kanan kepala. Ismail duduk di samping pria itu, mereka saling memberikan senyum kecil. Kemudian Ismail tak lagi menatapnya. Ismail memandang keluar jendela. Seiring laju mobil, mata Ismail merambat ke gedung perkantoran, memandang pabrik-pabrik yang berbaris rapi dengan buruh-buruh yang berserakan. Mengikuti gorong-gorong yang tak pernah bisa memenuhi fungsinya menahan banjir. Pandangan Ismail terus melekat di rumah-rumah liar, dan tiba-tiba terhenyak oleh lubang jalan. Sebuah pandangan lain menarik perhatian Ismail. Rambut keriting milik seorang ibu yang duduk di dekat pintu mobil metro trans itu, membuat geli hatinya. Ismail tersenyum sendiri.

“Kenapa tersenyum?” pria tua itu bertanya secara tiba-tiba, Ismail terperanjat dan suasana aneh mencekam dirinya.

“Ah, tidak,” Ismail menjadi salah tingkah sekaligus heran “Kenapa?”

“Sepertinya dari tadi anda memperhatikan rambut semua orang,” pria itu tersenyum.

“Ah itu cuma perasaan bapak,” Ismail mengelak, “aneh betul orang ini,” ia membatin “Bagaimana ia tahu apa yang saya pikirkan?”.

“Ha ha ha sudah lah,” pria itu menggeleng-geleng. Metro trans yang ditumpanginya berhenti menurunkan ibu keriting tadi. Di dalam mobil hanya tersisa lima orang penumpang. Semua tampak tak peduli dengan omongan mereka berdua.

“Rambut saudara unik,” pria tua itu kembali bersuara, sekali lagi mengejutkan Ismail.

Baru kali ini ia bertemu orang seperti pria itu. Kerut keningnya memperlihatkan bahwa ia sangat terganggu dan tersinggung, Ismail menatap pria itu.

“Jangan tersinggung, Saudara mestinya bersyukur dengan rambut itu.”

“Kenapa begitu?” di dalam diri Ismail bergejolak, ia bingung antara harus marah, benci, atau takut.

“Saya punya teman…” pria itu melanjutkan omongannya seakan tak peduli ekspresi Ismail. “Jika teman saya itu menyisir rambutnya, maka sisir akan penuh dengan rambut, sebulan yang lalu dengan mudah ia dapat mencabut segenggam rambutnya tanpa merasakan sakit.”

“Ah bapak bercanda,” Ismail memandang pria itu masih dengan ekspresi yang bercampur aduk.

“Oh tidak…tidak, sebulan yang lalu ia bangun dari tempat tidur yang penuh dengan rambutnya sendiri,” pria tua itu mengangkat tangan kanannya dan menggoyang-goyangkan telunjuknya.

“Ah bapak terlalu berlebihan!” Ismail mulai kelihatan takut, ia merubah posisi duduknya agak menjauh.

“Oh tidak…tidak,” pria itu tak lagi menatap Ismail. Ia memandang keluar mobil seolah hendak mengenali daerah itu. “Berhenti, Pak!” suaranya agak meninggi. Pria itu mengeluarkan uang dari saku kemejanya dan beranjak menuju supir, tapi sempat menatap Ismail “Saudara mestinya bersyukur,” lalu menuju pintu mobil.

Angin pada waktu itu bertiup kencang, suasana dingin semakin menyelimuti Ismail. Tiba-tiba sebuah benda melayang dan mendarat tepat di wajah Ismail lalu jatuh di pangkuannya. Dengan terperanjat Ismail mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, lalu dengan wajah terkejut ia melihat sebuah rambut palsu di atas kakinya. Tampak bagian dalam rambut palsu itu penuh dengan ketombe yang berukuran besar. Ketika Ismail melihat ke arah pintu mobil, pria tua itu sudah berdiri di luar mobil dengan wajah merah-padam dan kepala yang botak. Kulit kepala pria itu mengelupas seperti sisik ular. Ismail terkejut setengah mati. Begitu juga semua penumpang yang tadinya sempat tertawa kini memperlihatkan wajah jijik. Pria tua itu dengan cepat mengambil rambut palsunya, dan memasangnya kembali ke kepala secara tak teratur lalu turun. Supir metro trans itu langsung menjalankan mobilnya. Ia panik. Semua orang tak terkecuali Ismail memandang pria itu yang semakin jauh di belakang. Tak ada yang lain di hati Ismail selain kebingungan.

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Linus Kambing

Juni 16, 2008 at 4:27 am (7. Cerpen)

Linus sangat suka menonton televisi. Terlalu suka malah. Boleh dikatakan Linus fanatik televisi. Julukannya saja Linus parteve, gelar yang diberikan teman-temannya sesama sopir taksi yang orang Batak, karena Linus juga orang Batak. Dalam bahasa Batak seseorang yang sangat suka nonton televisi disebut Parteve. Linus memang orang Batak.  Merantau ke Batam. Kerja di Batam. Kawin dengan dengan orang Batam.

Makan siang, ulamnya televisi. Setiap malam sepulang kerja ia sanggup nonton televisi hingga subuh. Bila malas narik, pantatnya pasti sudah lengket di warung kopi Mak Ijah di pasar Penuin, dekat gerbang masuk kompleks perumahan sederhana dimana ruli alias rumah-liarnya berdiri. Dari pagi ia sanggup nonton televisi sampai maghrib walau cuma ditemani secangkir kopi, tak lebih. Itupun kalau ia ingat pulang.

Pernah seorang teman menanyakan hobinya itu sebab heran dengan Linus yang “hantu” dengan televisi. Linus menjawab dengan berapi-api, menurutnya televisi merupakan pembebasan jiwa dari keterkungkungan. Dengan bangga ia mengatakan bahwa televisi adalah meditasi masa kini, meditasi buka mata, bukan lagi terpejam seperti pertapa di kaki gunung mencari wangsit, para sufi di bilik sepi mencari Tuhan, atau kakek-kakek yang tengah beryoga. Meditasi bahasa, bukan lagi diam. Alhasil temannya itu diam kecut sebab jawaban Linus terasa tinggi – tepatnya meninggi.

Bermodalkan televisi Toshiba 14 Inchi di rumahnya, meditasinya berlangsung setiap hari, terutama malam sepulang kerja. Pernah terbersit di benaknya untuk memiliki televisi yang lebih besar, 21 inchi misalnya, atau bahkan Home theatre. Namun apa daya, mimpi itu terlalu mahal untuk ukuran dompetnya. Sebagai seorang supir taksi, pendapatan minim, membuat pikirannya terkontaminasi, semakin minus karena sekarang taksi sudah menjamur bagai cendawan di musim hujan. Tak pelak persaingan mengakibatkan uang susah didapat.

Sebagai supir taksi ia juga mungkin tak pernah tahu bahwa televisi bisa mencemari, sama halnya seperti taksi yang semakin banyak. Sayang, Linus jarang dengar musik di taksinya, sebab ia lebih fokus untuk  kontak-kontak dengan operator taksi tempat ia bekerja.

“Sewa di depan Mesjid raya!”

“Ambil, ambil,” begitulah komunikasi jika ia bekerja.

Makanya Linus tak tahu banyak tentang lagu. Dan lagi, Linus  tak pernah lihat acara musik seperti Mtv. Makanya wajar kalau ia tak pernah  dengar lagu kepunyaan Red Hot Chili Paper, yang pada bagian tertentu terdapat lirik “throw away your television”,  berisi pernyataan tentang televisi yang bisa membuat kacau isi otak! Bagaimana tidak, bila di dalamnya banyak terdapat sarana doktrin yang powerfull, propaganda konsumsi tingkat tinggi, yang sangat berbahaya untuk ukuran kantong Linus.

Suatu malam Linus pulang kerja. Ia langsung duduk di depan televisi seraya membuka sepatunya di dalam rumah. Istrinya tak marah, sebab tahu kelakuan suaminya yang parteve itu.. Anaknya yang baru berusia lima tahun, lagi sibuk bermain di ruang tamu.

“Sari, hidupkan dulu tivi itu, Nak,” kata Linus sambil menuangkan air minum di gelas yang sudah tersedia di meja makan.

Tangan kecil milik anak perempuannya itu menekan tombol on, televisi pun nyala, dan anaknya tertawa, senang mungkin merasa bisa berbakti pada ayahnya. Linus mulai serius memperhatikan televisi, bibirnya dimajukan ke depan.

 “Seorang anak tega menebas leher ayahnya sendiri disebabkan hanya karena tidak diberi uang jajan,” tampak seorang pembaca berita tengah memaparkan berita itu dengan gerakan tangan seadanya. Kilasan tentang berita itu disajikan, terlihat seorang anak yang telah dipelontos rambutnya, tengah bengak-bengok di kantor polisi. Ia kalap terus menerus ditanyai polisi. Reporter yang disana sibuk menanyainya.

“Khilaf, Mbak,” jawab bocah itu dengan tidak menutupi wajahnya dengan apapun, berbeda seperti yang biasanya dilakukan kriminal yang masuk berita, juga yang dilakukan orang-orang kalau ada razia di diskotik. Mayat sang ayah terlihat kaku memar, kepalanya hilang entah kemana, walau gambar disamar-samarkan, masih terlihat sepah darah kering menggenangi lantai, jari-jari tangan yang putus, mungkin ada perlawanan dari sang bapak sebelum menemui ajal. Linus masih menonton dengan serius, mulutnya bergerak-gerak menguyah daging ayam masak-pedas buatan istrinya. Sekali-kali ia lahap paha ayam pedas itu sambil mendengus-dengus dan terus menonton dengan serius. Istrinya menggigil jijik melihat tayangan berita dan suaminya yang masih sanggup makan dengan tayangan seperti itu.

 

***

“Kacau, dunia kacau balau!” sebuah suara milik pemuda tanggung mengusik berita itu. Tersandar di sebuah sofa, ia begitu menggerutu melihat pesan yang diterimanya dari siaran berita. “Jika aku punya anak nanti, tak akan kudidik ia jadi binatang seperti itu!”.

Pemuda itu belum menikah. Badannya tambun, wajahnya bulat tembam seperti bakpau. Tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama dua orang pemuda lainnya yang sebaya. Tengah kuliah  mencari bekal hidup.

“Heboh, seekor kambing di Sidoarjo mempunyai kelainan, kambing itu mempunyai sepuluh kaki. Menurut pemiliknya, kambing itu keramat, banyak pengunjung yang berebutan untuk mengambil tahinya…”

Ulasan berita itu membuat pemuda tanggung itu melonggo “Apa? Keramat!” katanya miring “Betul lah, keramat. Itu kan tahi,” ia menggeleng-geleng, kemudian mengambil Popcorn di meja, lalu menyumpalkan segenggam ke mulutnya.

Siapa yang tak kenal televisi. Di zaman sekarang ini semua orang sudah bisa beli televisi. Bukan seperti dulu yang dianggap barang mewah. Sekarang sudah menjadi kebutuhan pokok, bahkan beberapa orang menganggapnya sebagai kebutuhan mendesak, sama seperti beras. Ajang hiburan, arus informasi, infotainment, dan pendidikan, semua program televisi ibarat lauk-pauk yang menggiurkan untuk disantap hampir setiap hari. Televisi telah merubah budaya dan pola pikir masyarakat. Memang betullah agaknya seperti apa yang dikatakan Pakcik Muchtar Ahmad yang mantan rektor UNRI itu : Culture is not a final thing. It transformed due to technological, economical and social changes1. Sedap. Ya, perubahan sosial yang terjadi di masa sekarang tak bisa lepas dari munculnya televisi dan budaya lain yang dibawanya serta. Bahwa teknologi menentukan budaya adalah sangat betul.

 

***

Pembaca berita itu seorang lelaki. Usia separuh baya. Setelannya rapi, memakai jas hitam, gaya rambut parlente. Dengan wajah tampan meyakinkan,  membawakan berita dengan tegasnya. Tapi terkadang ia terlihat begitu bingung sedikit-sedikit. Semakin lama membaca berita, tampaklah perubahan di wajahnya. Dan mulai pucat.

“Seorang bapak tega memperkosa anaknya sen…,” ia menggoyangkan kepala seolah pening sebelah “Maaf pemirsa…” ia kemudian melanjutkan berita. Setelah tayangan visual, tampil lagi pembaca berita itu. Wajahnya tampak pucat, apakah karena make up, apa lantaran kamera man … tak tahu.

 “Dalam beberapa waktu ke depan pemerintah akan mengalokasikan dana APBN untuk memperindah gedung per … wa… kilan… rak….yat,” suaranya mulai terputus-putus, pucatnya bias dan agak memerah. Ia kembali menggoyang-goyangkan kepala, kali ini lebih kencang. Kelihatannya sakit kepala tidak sebelah lagi. Sudah kedua belah.  Ia kelihatan tak lagi sanggup meneruskan membaca berita. Nafasnya tersengal aneh. Kukunya mencakar meja. Aneh, kenapa tak ditutup iklan saja.

Ape ni ?” pemuda tambun yang duduk di sofa itu mulai keheranan. Ia melihat pembaca berita mulai bersuara mirip keledai disembelih. “Ape ni ?” ia tambah heran “Acara apa ni, masih berita tadi ke ?” ia mencoba meyakinkan diri tentang apa yang dilihatnya. Akan tetapi perilaku pembaca berita itu rupanya telah membuat geli hatinya. “Ha hahaha, reality show agaknya,” ia mulai tertawa. Ibarat motor yang baru distarter, kemudian tarik gas tambah keras “Hahahahahaha,” lemak-lemak di perutnya tampak bergelombang seperti ombak.

Pembaca berita menjambak rambutnya sendiri, seolah ia hendak mencabut beberapa genggam. Wajahnya aneh bagai di cermin perot, nonjol sana-sini, lidahnya keluar. Hal itu membuat pemuda tanggung tadi bertambah  parah ketawanya.

“Hahaha…bagus..haha…betul…ha…acara ni…hua hahaha,” tawanya membahana seperti digelitik kuntilanak.

Pembaca berita tadi bertambah gila, ia mulai bicara lagi. ”Ayah, anak, istri, leher, perkosa, aaaaaaaaaa..!” ia mulai naik ke meja. Anehnya tak ada siapapun yang menahanya untuk tidak berbuat begitu. Kemana orang-orang lainnya?

Mendengar tawa pemuda tanggung itu demikian keras, maka datanglah seorang pemuda tanggung lainnya, wajahnya hampir persis seperti Dono Warkop ketika masih muda.

“Ada apa ini? kenapa kau tertawa?” teman pemuda itu menyapa heran sahabatnya.    “Herman, woi sadar!”

“Hua hua hahahaha.”

“Engkau Kenapa, Herman?” pemuda itu melihat ke arah televisi, melihat keanehan pembaca berita yang sekarang sudah melonjak-lonjak seperti suku Indian menuju medan perang.

“Acara apa ni?, reality show ke ?” ia malah mengerutkan kening. “Acara apa ni, Man?, lawak ke ?” wajah pemuda itu berkerut bagai jeruk purut, sudahlah buruk makin buruk dia.

Melihat tingkah laku pembaca berita yang semakin gila, Herman tambah menjadi-jadi “Hauahua hahahaha,” ia memegang perutnya, sudah mulai sakit agaknya.

Temannya itu keheranan. Dipandangnya Herman, kemudian pembaca berita, melihat Herman lagi, terus berganti-ganti.

“Aku tak tahu apa yang kau ketawakan, tapi engkau dan orang di tivi itu sama gilanya,” mulai ada tawa kecil di mulut teman Herman itu. “Ha ha,” semakin ia melihat Herman, melihat pembaca berita, semakin keraslah tawanya “Hua hau hau,” tak lama ia menyusul Herman. Mereka tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat pembaca berita itu melolong, dasinya ditariknya ke atas persis orang gantung diri, lidahya keluar, natural sekali.

“Hua haua hu uhuk huk huk,” mereka tertawa betul hingga batuk, sekarang barulah sakit perut. Tangan mereka memegang perut masing-masing, berguling-guling di lantai.

“Ayah, ibu, anak, bunuh, perkosa, kambing, pemerintah, aaaaaaaaaa!!!”

Sampai di suatu titik mereka tak kuat lagi tertawa, mereka tampak letih, kemudian saling pandang, diam, dan… .

“Hua hua hua hua hahahahahahaaaaaa.”

 

***

 

“Ma, Om yang di tivi itu gila, ya?” anak perempuan Linus menunjuk ke arah televisi, Emaknya melirik ke televisi. Pembaca berita sudah penuh air liur.

“Bah, kenapa pula manusia itu?” Linus heran, matanya terbelalak serius.

“Apa tu, Bang ?” tanya isterinya.

“Husss diamlah dulu, dengar baik-baik!”

“Apa ni?”

“Husss…diam dulu!”

“Ma, Om itu sudah gila,” anaknya menangis cemberut takut. “Heeeeeeeeeeeeeek,” anak perempuan Linus menangis takut dan sembunyi di celah kaki ibunya yang keheranan.

“Diamlah dulu, Sari!” suara Linus bergelegar.

“Heeeeeeeeeeeeeek!” Sari semakin takut, tangisnya semakin besar, Emaknya mulai menggendong Sari, mengusap wajah anaknya itu.

“Tak apa-apa, Sayang” mata bini Linus masih di televisi, pembaca berita semakin gila meninju-ninju meja sehingga tangannya berdarah.

”Ayah, ibu, perkosa, anak, pemerintah,kambing, aaaaaaaaaaaa…!”

“Heeeeeeeeeeeeeee…!” suara anak Linus menjadi–jadi.

“Diamkan anak itu, bawa keluar !” Linus menggaruk-garuk kepalanya, stress.

“Matikanlah, Bang, Sari takut ni,”

Linus diam.

“Bang, matikan!”

“Heeeeeeeee,”

“Alamak diamlah kalian!”

“Matikan, Bang!”

“Ayah, ibu, anak, perkosa, pemerintah, kambiiiiiing…!”

Mata Linus melebar mau keluar.

“Matikan, Bang!”

Linus berdiri melompat.

“Heeeeeeeeeeeeeeeek,” Sari nangis.

Jeglek,” mati lampu.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PENCURI

Juni 16, 2008 at 4:24 am (6. Puisi)

Gempa dalam batinku merobohkan cinta

Jiwa dalam diri diusir telanjang gelombang

Duri diriku patah

Karam di dasar palung laut dalam

 

Kurang deras apa lagi nurani hanyut

Tangan menggapai harap di permukaan

Air keruh menelan ruh

Saat kelam membentur kepala

Aku menggelepar sekarat

Kau cungkil mata

Kau potong jemari

 

Puing-puing di hamparan mataku hanyalah bangkai hati

Ketulusan tersangkut di pohon kelapa

Alam diriku kaku

Erat dibungkus pekat kelambu

Sejauh apa kemunafikan berenang

Lapar berada di ubun-ubun

Kau simpan iba di tembolok pelikan

Apakah engkau menukar air mata dengan surga

Menjual penderitaan dengan emas atau pahala

 

Akan kubunuh air hingga tak lagi hilang dahagamu

Kan kutebas nyawa tanah lalu tak ada makammu

Dan kuhirup semua udara hingga hampa mayat mengambang biru

Dan akan kusembah api untuk membakar

 

Batam, Januari 2007

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ANGIN

Juni 16, 2008 at 4:14 am (6. Puisi)

ANGIN

 

Angin kehilangan ibu

Berlari mencari di ketiak pohon

Dan mereka pun menggeleng

Dingin

Angin membawa airmata

Menembus semua yang ada

Semua beku

Menghancurkan diri sendiri

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BU, JANGAN PAKSA AKU MELUKIS

Juni 16, 2008 at 2:06 am (7. Cerpen)

Matahari merambah puncak hutan dengan cahaya keemasan. Langit jingga dikerumuni awan-gemawan tipis yang terlihat lelah bepergian, istirah memandang matahari yang akan tenggelam. Kepakan sayap kelelawar yang terbang pulang ke sarang menyuarakan kerinduan dahan pepohonan, menghiasi langit dengan titik-titik hitam.

Seorang perempuan melukis bersama senja. Senang bermain warna. Hamparan hijau kelam dedaun digoreskan oleh tangannya melalui kuas-kuas yang terbuat dari ekor kuda. Sesungging senyum bertahta di bibir, tatapan nan lembut di matanya menyiratkan damai kala memandang alam ciptaannya di kanvas. Ia biarkan semilir angin membelai mesra rambutnya yang tergerai.

Seorang perempuan melukis bersama senja. Senang bermain warna. Alam merasuk masuk ke pupil matanya, lalu bergemuruh di seluruh pori-porinya. Sekujur tubuhnya berkehendak, memaksa tangannya untuk bebas, memotret alam, memotret dirinya. Di belakang rumah di atas bukit, perempuan itu selalu bersemangat menyentuh kanvas dengan ayunan lembut permainan kuasnya. Menikmati bebauan cat dan paduan aroma bunga. Aliran air bening diayun tangannya yang memoles indah. Natural jiwanya membentuk lukisan. Dipandanginya lukisan itu dengan takzim. Matanya berbinar-binar. Dekapan hangat terasa di sekujur tubuhnya.

“Indah  bukan, Din?” Ia tersenyum. “Kau juga ingin melukis?”

***

Wajah itu berkelebat di benaknya. Menari di setiap simpul syarafnya. Merekah dan mengambil bentuk dalam ingatannya. Ia ingat bagaimana ia merasakan kelembutan wajah itu dulu. Memandang kelembutan perempuan yang sedang melukis di atas bukit. Mengagumi dirinya yang takjub.

Di depan  matanya terpampang lukisan karya ibu. Yang pernah disaksikannya dulu sewaktu ibu mengayunkan warna-warni kelembutan di lukisan itu. Dipandanginya lukisan itu dengan lekat. Jarang sekali ia berkedip. Ada kesungguhan pada kelopak matanya, ada semacam hasrat. Ia ingin masuk ke dalam lukisan itu. Ada kelembutan yang ia rasakan. Dan sekarang dinikmatinya lagi kelembutan itu. Kehangatan lukisan ibu dengan ujung jemari tangannya.

Dengan matanya yang terpejam, ia ikuti aliran sungai yang mengalir pelan, terhenti di bebatuan sungai yang licin. Mencium aroma teratai. Ketika ia menyentuh teratai itu, ikan-ikan memagut jemarinya. Di sekitar sungai, lumpur memeluknya, ilalang menyentuhnya, semak belukar menggores kakinya. Ia berlari menyusuri hamparan rumput luas dan terhenti di sekumpulan bunga bakung. Bunga itu putih bersih, harumnya memukau. Di sela-sela bunga molek itu, bekicot menyapanya.

Diambilnya bunga bakung itu, dihembusnya dengan sedikit kencang hingga sekumpulan kecil benangsari beterbangan, berpencar, melayang, lalu menempel di sayap seekor rerama yang tiba-tiba datang. Rerama itu terbang mengelilinginya, seolah mengajaknya bermain. Ia ingin menangkap rerama itu, namun ia merasakan sesuatu. Ada bisik angin yang membawa suara dan aroma yang dirindukannya. Lalu mengembang di dalam darahnya.

Diikutinya aroma itu sampai ke sebuah rumah mungil dengan cerobong batu di atasnya. Atap jerami memantulkan warna kuning keemasan. Dirabanya jerami itu hingga merasakan keringnya, warnanya. Di bawah atap rumah, di pekarangan, disentuhnya sebuah wajah seorang perempuan yang sedang melukis. Sambil tersenyum memoles kanvas dengan hamparan hutan hijau diterpa semilir angin dan cahaya matahari sore yang kuning keemasan. Dengan kelembutan, perempuan itu memandangnya.

“Engkau juga ingin melukis, Din?”

Ia tersadar. Kelopak matanya perlahan terbuka. Air mata yang tertahan, melimpah jatuh. “Oh, ibu…”. Perih di hatinya berubah jadi isak tangis. Pandangannya di lukisan ibu tersamar oleh basah airmata. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia menjerit.

“Apa yang harus aku lakukan, Bu. Kerinduan ini menghampakan relung hatiku. Kosong itu mengisi ronga dadaku, aku mengambang, Bu.”

Ada perasaan yang digenggamnya, yang ingin diterbangkannya bersama burung-burung. Ia ingin dituntun tangan ibu untuk melukis. Tangan ibu yang lembut. Tangan ibu yang membelainya dengan kasih. Yang menuntunnya melukis. Tangan ibu yang dulu pernah memberikannya buku ensiklopedi lukisan. Hingga ia berenang menikmati jiwa Afandi, terbang mengitari….., memiliki Basuki Abdullah, memasuki alam Van Gogh. Ia rindu suara ibu yang dulu menerangkan satu-persatu pelukis di buku itu. Di dalam dirinya yang abstrak ada realisme ibu.

“Bu, ini siapa?”

“Itu Mona Lisa, Din, karya Da Vinci.”

“Senyumnya mirip dengan Ibu, ya”

Kenangan itu menampar dirinya. Diambilnya sebuah kanvas, lalu bergegas berlari ke luar rumah. Di teras rumahnya, ia letakkan kanvas itu. Ada hasrat dalam dirinya. Ia pandangi kanvas kosong itu, alam putih bersih memandang matanya. Dirasakannya tekstur kain kasa yang terasa kasar. Membayangkan sketsa ibu. Kemudian ia mengambil sebuah kuas kecil, lama ia tatap kuas itu. Ingin rasanya ia melukis ibu. Tengelam dalam kelembutan ibu. Tenggelam dalam senyumannya, dalam ayunan kuasnya. Memoles bersih putih parasnya di sebuah kanvas bersih seperti kapas. Melukiskan wajah ibu, memberikan warna lembut ibu. Matanya, hidungnya, telinganya, pipinya, bibirnya yang tersenyum lembut. Menggoreskan perlahan sehelai demi sehelai rambut ibu. Tak sadar bulir airmata jatuh perlahan, menitik menjadi permata kemudian jatuh dan membuat gelombang di cat warna.

“Ayo, bantu ibu melukis, Nak”

Waktu itu didekatinya ibu dengan malu-malu. Di dalam sana, perasaannya bergejolak meluap gembira. Ibu memegang kedua bahunya dan mendudukkannya di pangkuan ibu. Ibu menyelipkan kuas kecil di jarinya yang mungil. Ia memandangi ibu. Bahagia terasa sangat.

“Pilih warna terserahmu, Din.”

Ia hanya memandang ibu.

“Ayo, jangan ragu.”

Diambilnya warna biru, dilekatkannya di kuas kecil yang diberikan ibu.

“Ayo, Nak. Lukislah, terserah kamu. Lihatlah sekelilingmu, alam ini dirimu, diri kita.”

Tangannya membuat sebuah titik di permukan kanvas. Kemudian ia ragu untuk meneruskan. Dipandanginya ibu dengan wajah sendu “Nanti rusak, Bu.”

“Jangan takut, lukis sesukamu, karena apapun yang kau lukis pastilah seindah lukisan Van Gogh. Jangan takut, Din. Kamu mau melukis apa?”

“Ibu,” ia tersenyum. Hatinya bergejolak. Gembira. Namun ketika ia hendak meneruskan titik itu, tangannya terhenti. Tangannya enggan mencapai kanvas.

“Bu…” dipandanginya ibu dengan wajah sendu.

“Ayo, Nak. Lukislah, tak perlu takut. Tak perlu menjadi Da Vinci yang mampu melukis dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menulis. Tak perlu, Nak. Lukis sekehendakmu, biarkan sukmamu menuntun tanganmu. Bebaslah, Nak.”

“Tapi, Bu…”

Ia terdiam. Mematung.

Sampai sekarang pun ia tetap tak bisa mewujudkan wajah ibu. Ia takut. Takut ketika wajah itu hadir di depan matanya. Dengan senyumnya yang lembut, kasihnya yang hangat, garis wajahnya yang bersih, binar matanya yang yakin. Ia takut kerinduan di dalam sukmanya semakin membesar. Melimpah ruah menjadi sungai, dan ia akan tenggelam. Ada gerak sedu-sedan di tubuhnya. Tangannya gemetar, tubuhnya gemetar. Ia bagai mencair.

“Aku tak sanggup. Aku tak sanggup melukis wajahmu, Bu.”

Air mata mengucur deras bagai mata air yang berasal dari lubuk hatinya. Masih digenggamnya kuas itu. Kuas kecil itu. “Aku tak bisa, Bu. Kerinduan melemahkan persendianku. Merobohkan otot-ototku.”

Ia bersimpuh. Wajah lembut ibu menari-nari di dalam benaknya, mengajaknya berlari di pohon-pohon waktu. Menuntun tangannya terbang ke alam lukisan, ke alam cahaya kuning keemasan. Ke hamparan rumput luas, di sekumpulan bunga bakung, lalu ke rumah mungil bercerobong batu.

Ia tersandar di kanvas. Kanvas terjatuh, ia terbaring menindih kanvas itu. Didekapnya erat kanvas itu. Sebuah dekapan erat yang sangat dirindukannya. Kehangatan masa lalu yang tak pernah ia rasakan lagi. Di sudut matanya yang terpejam, ada tetesan air yang lalu mengusap pipinya.

“Bu, jangan paksa aku melukis…” lirih suaranya terdengar sendu.

Air mata mengalir deras bagai sungai. Dari sudut matanya, melewati pipinya, kemudian jatuh meresap di kain kasa yang kasar. Meliuk-liuk meluas di permukaan kanvas. Air mata itu terus mengucur deras membuat aliran di pipinya, menciptakan air terjun yang jatuh membentuk mata, hidung, telinga, mulut. Air mata itu terus mengalir dan meluas membentuk alis, bulu mata, dan helai demi helai rambut. Membentuk paras wajah yang bersih. Dan wajah itu tersenyum lembut.

“Ibu… !” pekiknya lirih, sembari nanar menatap wajah yang tertera di kanvas.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BUTA

Juni 16, 2008 at 2:02 am (6. Puisi)

haruskah aku lahir menjadi kafir

mendurhaka tujuh neraka

kalaulah ya

maka aku rela

jiwa meraba sudah

buta

maka haruskah aku menjadi kafir

kalaupun ya

habislah sudah

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar